Pelajar SMK Pengedar Pil Trihex Di Bekuk Polisi - klakon.com

HEADLINE:

Rabu, 31 Januari 2018

Pelajar SMK Pengedar Pil Trihex Di Bekuk Polisi

Kapolres Klaten AKBP Juli Agung Pramono saat konperensi pers di Mapolres Klaten, Selasa (30/1/2018) (Foto/Dok/KLAKON.com/Boen)
KLAKON.com — Jajaran Satuan Reserse Narkoba Polres Klaten berhasil meringkus dua orang pengedar pil jenis Trihexyphenidyl yang biasa menyasar kalangan pelajar. Dari tangan mereka, polisi berhasil mengamankan barang bukti berupa ratusan pil Trihex yang digolongkan obat berbahaya jenis daftar G. Ironisnya, dari kedua tersangka tersebut, salah satunya masih berstatus sebagai pelajar SMK di Klaten.


“Selain pengedar kedua tersangka juga sebagai pengguna. Total barang bukti sebanyak 603 butir pil Trihex. Berdasarkan data, dua tersangka yang dicokok pada Januari 2018 ini atas nama Rizal Ibnu Ardian (19) dan MS (17). Kedua warga Desa Jiwan, Kecamatan Karangnongko itu mengedarkan pil Trihex kepada anak usia sekolah, baik di sekolahan maupun diluar sekolah.

“Sebenarnya obat ini adalah  untuk konsumsi, orang- orang tremor (penderita parkinson). Tetapi oleh mereka para remaja dan pelajar pil tersebut disalahgunakan untuk mabuk-mabukan. Menurut pengakuannya, dengan minum pil yang melebihi aturan pemakaian, 5-10 butir, bisa memabukkan, hingga timbul keberanian dan percaya diri, dampaknya kemudian bikin onar,” ujar Kapolres Klaten AKBP Juli Agung Pramono, di Mapolres, Selasa (30/1/2018).

Lebih jauh kata Kapolres, akibat perbuatannya memakai dan mengedarkan obat terlarang, Rizal dan MS dijerat pasal 112 ayat 1 subsider pasal 132 ayat 1 Undang Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan junto Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP dengan ancaman pidana penjara maksimal 12 tahun.

“Salah satu pelaku masih berstatus pelajar SMK, untuk itu Kapolres menghimbau kepada para  orang tua untuk waspadai dan memperhatikan perubahan perilaku anak- anak dan selalu mengontrol dari pergaulan yang salah, agar tidak terjerumus.”

Terkait, dari pengakuan tersangka Rizal, baru tiga bulan ini ia menjalankan bisnis jualan pil Trihex.  Ia dapat barang haram tersebut dari Jogja, melalui pemesanan lewat akun Instagram.

“Rata-rata diedarkan ke teman gank mereka yang masih maupun putus sekolah, dengan harga per paket Rp 10.000,  berisi 3-5 butir. “Per bulan bisa mengantongi keuntungan bersih Rp 700-900 ribu dibagi dua,” kata Rizal saat konferensi pers di Mapolres Klaten, Selasa (30/1/2018).

Masih kata Rizal, alamat pengedar akun instagram asal Jogja tersebut selalu berganti nama tiap pekan. Sedangkan proses pemesanan obat berbahaya jenis daftar G itu dilakukan via kolom komentar di Instagram dengan menyebut kata ‘sapi, terakhir akun yang dipakai @yarindo. Sedang untuk bertransaksi, dia menghubungi saya lewat nomor WhatsApp yang nomornya selalu berganti-ganti.” (sas)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar