Sadranan Berkah Bagi Penjual Bunga Mawar - klakon.com

HEADLINE:

Sabtu, 12 Mei 2018

Sadranan Berkah Bagi Penjual Bunga Mawar

KLAKON.com -  Di era digital jaman now, Tradisi Bersih Desa Ruwahan/Sadranan, masih tetap diuri-uri. Hal ini terbukti diberbagai wilayah desa di Klaten budaya bersih desa dan tradisi sadranan masih dipegang teguh kesakralannya.

Budaya dan tradisi sakral Sadranan, khususnya bagi masyarakat jawa dengan ziarah kubur mendoakan para  leluhur di pemakaman, diyakini hukumnya adalah wajib. Tidak boleh ditinggalkan bila tidak ingin hidupnya mendapat kesialan.

Terkait dengan masih eksisnya tradisi Sadranan bagi masyarakat Jawa, berimbas berkah bagi pedagang bunga mawar dan uborampe untuk keperluan berziarah kubur.

Sunarti (85) als Mbah Suyut, warga Dukuh Sendangan, Desa Mojayan, Klaten Tengah, adalah pedagang bunga mawar di pojok pasar induk, komplek Matahari Mall Klaten.

Kepada Klakon.com, nenek yang masih lincah dan cekatan ini mengaku selama lebih dari  40 tahun berjualan bunga mawar, hasilnya bisa membeli 3 rumah dan pekarangan luas.

"Kulo sadean kembang setaman niki awit kulo taksih remaja, sakniki sampun nenek-nenek. Hasile sampun saget tumbas omah telu kalih kebon Ombo,"tuturnya.

Dikatakan, dagangan bunga mawarnya dibeli dari petani dia daerah Cepogo, Boyolali. Pada bulan ruwah, bertepatan dengan tradisi Sadranan, harga bunga sangat e mahal meningkat hingga dua kali lipat.

Kalau hari biasa 1 kg hanya Rp 100 ribu pada perayaan Sadranan bisa mencapai Rp 300 ribu -  Rp 450 ribu/kg. Sejak dua hari ini, tiap hari bisa menjual bunga 10 kg- 15 kg. "Alhamdulillah dagangan kembange laris, sampun kalih dinten niki kathah priyayi sing pados sekar kangge Sadranan," ungkapnya berbunga-bunga.

Senada, keuntungan melimpah hasil berjualan bunga mawar dibulan ruwah juga dirasakan Muji (54). Dari hasil berjualan kembang setaman, dia bisa mensekolahkan ketiga anaknya hingga lulus sarjana.

"Anak saya yg mbarep dan nomor dua sudah lulus sarjana dan sudah bekerja. Sementara yang anak ragil masih semester 2," kata anak dari Mbah Suyut ini, bangga.

Lebih lanjut, kata Muji, mulai hari ini, Jum'at (11/5/2018) disinyalir harga bunga mawar dari Boyolali akan naik tajam. Hal ini, karena dampak abu dari meletusnya Gunung Merapi tadi pagi. Pada puncak tradisi Sadranan pada hari Minggu (13/5/2018) harga bunga akan melonjak.

"Hari ini satu rinjing kecil harganya masih Rp 20 ribu, pada hari Sabtu dan Minggu, harganya akan melonjak, per rinjing kecil bisa mencapai Rp 30 ribu - Rp 40 ribu," paparnya. (N'der)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar