Komite Sastra Jawa, Generasi Sekarang Kurang Dalam Pemahaman Bahasa dan Tulisan Jawa - klakon.com

HEADLINE:

Kamis, 13 Desember 2018

Komite Sastra Jawa, Generasi Sekarang Kurang Dalam Pemahaman Bahasa dan Tulisan Jawa

KLAKON.com - Minat dan pemahaman terhadap Bahasa dan tulisan Jawa cenderung melemah pada generasi sekarang. Jika sekarang pengguna Bahasa Jawa diperkirakan masih sebesar 75 juta orang, dikhawatirkan ke depan akan semakin menurun dari tahun ke tahun.

Hal itu terungkap dalam Workshop Bahasa dan Tulisan Jawa yang digelar Komite Sastra Jawa Dewan Kesenian Kabupaten Klaten di pendapa Soeboer Dukuh Sraten Desa Trunuh Kecamatan Klaten Selatan Rabu (12/12/2018) siang. Workshop diikuti 52 orang perwakilan dari 26 kecamatan, dan perwakilan dari lembaga lembaga Bahasa Jawa di Klaten. Nara sumber Ngadi MPd dan Drs H Suwito Mitro Tanoyo dari Dewan Kesenian Klaten.

Ketua Komite Sastra Jawa, Lanjar Puryanto, mengatakan melemahnya pemahaman ini terlihat dalam keseharian masyarakat kita pada saat ini. Banyak remaja kita yang tidak bisa membedakan pemakaian kata antara untuk diri sendiri dan orang lain yang lebih tua dan dihormati. Seperti menyebut diri sendiri “sare”, sementara orang yang lebih dihormati dibilang “tilem”.

Demikian juga dalam penulisan, biasa ditemukan dalam komunikasi melalui WhatsApp, seringkali membuat dongkol dan menggelikan. Misal seharusnya “lara” ditulis “loro”, mata” ditulis “moto”, “cara” ditulis “coro”, padahal  masing masing berbeda arti. Kondisi ini dinilai oleh Lanjar Puryanto sudah mmprihatinkan.

Dalam kesempatan membuka Workshop tersebut, Ketua Harian Dewan Kesenian Kabupaten Klaten, Fx Setyawan DS, juga mengungkapkan kurangnya pemahaman terhadap Bahasa dan tulisan Jawa tanpa disadari juga berpengaruh terhadap kepribadian. Banyak anak anak kita yang kurang unggah ungguh dan tata krama terhdap orang yang lebih tua dan dihormati.

Generasi muda sekarang, kata Setyawan, terasa seperti terpinggirkan, kurang sentuhan dan motivasi terhadap Bahasa dan tulisan Jawa, sehingga berakibat minat untuk belajar dan memahaminya berkurang. Kalau kita lihat Jepang, sebuah negara maju tetapi tetap bertahan dengan budaya mereka sendiri.(Sas)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar