Darurat Penanganan Tawon Endas, Satpol PP Klaten Datangkan Lipi dan Kemenkes - klakon.com

HEADLINE:

Senin, 14 Januari 2019

Darurat Penanganan Tawon Endas, Satpol PP Klaten Datangkan Lipi dan Kemenkes

KLAKON.com - Saat ini populasi tawon vespa affinis atau dikenal sebagai tawon endas bersabuk kuning terus berkembang tidak hanya di pedesaan namun juga di perkotaan. Maka dari itu Satuan Polisi (Satpol) PP Kabupaten Klaten yang salah satunya membidangi Pemadam Kebakaran, Senin, (14/1/2019) mengadakan sosialisasi pencegahan, tata laksana dan penanganan tawon  vespa affinis di Pendopo Pemkab Klaten.

Kepala Satpol PP Kabupaten Klaten, H Sugeng Haryanto SE MM dalam laporannya mengatakan, peserta sosialisasi diikuti sekitar 500 peserta yang terdiri dari kepala desa, camat, kepala Puskesmas se Klaten. Kemudian juga diikuti jajaran Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di lingkungan Pemkab Klaten serta para relawan dari SAR Klaten, PMI, ORARI, RAPI dan komponen relawan lainnya.

Sugeng Haryanto menjelaskan, sosialisasi pencegahan, tata laksana dan penanganan tawon  vespa affinis menghadirkan dua narasumber masing-masing Dr dr Tri Maharani MSi, Sp.EM dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI dan Dr Sih Kahono MSc dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Sosialisasi yang dipandu penasehat Pemadam Kebakaran Klaten Subantarja tersebut bertujuan untuk memberikan pemahanan penanganan tawon vespa affinis serta penanganan korban yang disengat tawon vespa affinis.

Bupati Klaten Hj Sri Mulyani dalam sambutan yang dibacakan Asisten I Sekda Klaten, dr Rony Roekmito MKes mengatakan, pada tahun 2018 ini ada 207 laporan keberadaan tawon vespa affinis dan ada 7 warga meninggal dunia dan satu ekor kambing tewas karena disengat tawon vespa affinis. 

Kemudian tahun sebelumnya yakni tahun 2017 ada 2 warga Klaten juga meninggal karena sengatan tawon tersebut, sehingga sampai sekarang sudah ada 9 warga Klaten yang meninggal karena sengatan tawon vespa affinis.

Maka dari itu, kata dr Rony, Bupati Klaten memandang  perlu dibentuk tim penanggulangan tawon vespa affinis. Sehingga dengan dibentuk tim penanggulangan tawon vespa affinis, maka tim dapat mempelajari penyebab tawon berkembang cepat, dan habitatnya juga bisa pindah cepat dari pedesaan ke kota.

Kemudian tim nantinya juga dapat melakukan tindakan secara cepat saat ada warga disengat tawon, sehingga tidak jatuh korban jiwa lagi akibat sengatan tawon vespa affinis.

Pada kesempatan itu Dr Sih Kahono MSc dari  LIPI dalam paparannya mengatakan, tawon vespa affinis berbeda dengan tawon endas berwarna hitam. Tawon vespa affinis juga dikenal sebagai tawon endas bersabuk kuning dan bila menyengat bisa berkali-kali dan tawon endas vespa affinis tidak mengeluarkan madu.

Dikatakan, tawon vespa   bisa ditemukan di banyak tempat, mulai dari kawasan dan tepian hutan, di tebing-tebing hingga sekitar pemukiman warga yang tingginya kurang dari 500 meter di atas permukaan air laut atau dataran rendah. Tawon vespa atau ndas bisa dengan mudah dikenali dengan ukurannya yang agak besar, yaitu panjang sekitar tiga sentimeter, tubuh yang berwarna hitam dan gelang berwarna kuning atau oranye di perut.

Sementara itu Dr dr Tri Maharani MSi, Sp EM dari  Kemenkes RI mengatakan, tawon Vespa affinis bukanlah tawon madu, melainkan tawon predator. Tawon ini memiliki kemampuan untuk memasukkan racunnya ke dalam tubuh manusia. Pada dosis kecil, yakni ketika yang menyengat hanya satu atau dua ekor tawon, racun V affinis hanya akan menimbulkan alergi saja dengan gejala-gejala seperti bengkak.
Dikatakan, penanganannya pun cukup sederhana. Bagian yang bengkak perlu dikompres dengan es atau kalau tersisa sengatannya, bisa dicabut. Lalu, pasien diberikan analgesik dan obat-obatan antihistamin atau corticosteroid sampai pembengkakan berkurang.
Bila tawon yang menyengat berjumlah banyak, kata dia, maka hal ini bisa menyebabkan hiperalergi yang jika tidak ditangani akan berlanjut menjadi anafileksis hingga sistemik atau merusak organ tubuh lainnya hanya dalam hitungan hari.

Maka pihaknya mendukung agar Dinas Kesehatan termasuk Ikatan Dokter Indonesia (IDI) perlu mengadakan seminar khusus yang membahas penanganan korban akibat sengatan tawon vespa affinus, sehingga di Klaten tidak ada korban meninggal dunia lagi akibat serangan tawon vespa affinus. (Boen)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar